Kumpulan artikel tentang IT, Informatika, Tutorial VB, Elektro, Mikrokontroler serta Kumpulan Puisi & Cerpen

Jumat, Mei 01, 2009

APAKAH AL-QUR'AN ITU?


a. Arti Qur’an dan apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an.

“Qur’an” menurut bahasa berarti “bacaan”. Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagai tersebut dalam surat Al Qiyaamah (75) ayat 17 dan 18.

Artinya:
17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian dipakai kata “Qur’an” itu untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini. Adapun definisi Al-Qur’an ialah: “Kalam Allah Swt yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw dan membacanya adalah ibadat.”
Dengan difinisi lain, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa as. Demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang tidak dianggap membacanya sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur’an.

b. Cara-cara Al-Qur’an diwahyukan.
Nabi Muhammad saw dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan.

  1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku”, (lihat surat Asy Syuuraa (42) ayat 51).
  2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
  3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
  4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an surat An Najm (53) ayat 13 dan 14.


Artinya:
13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430].

[1430] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika mi'raj.

c. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah:
  1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah ra.
  2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
  3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al Furqaan (25) ayat 32, yaitu: “……….mengapakah Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus……?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri: “………demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu……..”.
  5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.

d. Ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah.
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan:
  1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
  2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 28 surat.

Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:
  1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al-Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al-Qur’an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surat Mumtahinah (60), ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surat Ad-Dahr (76), ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat An Anfal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
  2. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surat-surat Makkiyyah adalah sebaliknya.
  3. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.

e. Nama-nama Al-Qur’an.
Allah memberi nama Kitab-Nya, dengan Al-Qur’an, yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam surat Al Qiyaamah (75); ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.
Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al Israa’ (17) ayat 88; surat Al Baqarah (2) ayat 85; surat Al Hijr (15) ayat 87; surat Thaaha (20) ayat 2; surat An Naml (27) ayat 6; surat Ahqaaf (46) ayat 29; surat Al Waaqi’ah (56) ayat 77; surat Al Hasyr (59) ayat 21 dan surat Addahr (76) ayat 23.
Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al-Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Selain Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti:
  1. Al Kitaab atau Kitaabullah: merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an, sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqarah (2) ayat 2 yang artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya…….” Lihat pula surat Al An’aam (6) ayat 114.
  2. Al Furqaan: “Al Furqaan” artinya “pembeda”, ialah “yang membedakan yang benar dan yang batil”, sebagaimana tersebut dalam surat Al Furqaan (25) ayat 1 yang artinya: “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hambaNya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam”.
  3. Adz-dzikr: artinya “peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Hijr (15) ayat 9 yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-dzikr” dan sesungguhnya Kamilah penjaganya”. Lihat pula surat An Nahl (16) ayat 44.
Dari nama yang empat tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al Qur’an”.
Selain dari nama-nama yang empat itu ada lagi beberapa nama bagi Al-Qur’an.

f. Surat-surat dalam Al-Qur’an.
Jumlah surat yang terdapat dalam Al-Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (taufiq).
Sebagian dari surat-surat Al-Qur’an mempunyai satu nama, dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama.
Surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:
  1. ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat panjang. Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah, dan Yunus.
  2. AL MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti: Hud, Yusuf, Mu’min, dsb.
  3. AL MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti: Al Anfaal, Al Hijr, dsb.
  4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek, seperti: Adh-dhuha, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dsb.

g. Huruf-huruf Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah yaitu pada surat-surat: Al Baqarah, Ali Imran, Al A’raaf, Yunus, Hud, Yusuf, Ar Ra’ad, Ibrahim, Al Hijr, Maryam, Thaaha, Asy Syu’araa, An Naml, Al Qashash, Al ‘Ankabuut, Ar Ruum, Lukman, As Sajdah, Yasin, Shaad, Al Mu’min, Fushshilat, Asy Syuuraa, Az Zukhruf, Ad Dukhaan, Al Jaatsiyah, Al Ahqaaf, Qaaf, dan Al Qalam (Nuun).
Huruf-huruf Hijaaiyyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan “Fawaatihushshuwar” artinya pembukaan surat-surat.
Banyak pendapat dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaaiyyah itu, lihat terjemah.


Share:

4 komentar:

  1. al quran sumber inspirasi dan sumber dari segala ilmu.

    BalasHapus
  2. alquran segala-galanya, sumber ilmu dan pengetahuan

    BalasHapus
  3. Setuja... e setuju!
    Semua ilmu telah ada di dalam Al Quran sejak dulu.

    BalasHapus
  4. Tinggal qta mempelajarinya, bagi orang yang berfikir.

    BalasHapus

Kalender Hijriah


Jadwal Sholat


Subscribe

kirim update terbaru dari

Blog Irda langsung ke Email anda!


Komentar Terbaru

Site Info

Tukeran link yuk

Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Irdaloves Blog

Follower

Blog Archive