Kumpulan artikel tentang IT, Informatika, Tutorial VB, Elektro, Mikrokontroler serta Kumpulan Puisi & Cerpen

Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 19, 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H


Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H

Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Takbir berkumandang, seteguk air membasahi dinding tenggorokan. Tak terasa kita ditinggalkan bulan penuh rahmat, bulan suci ramadhan. Akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan lagi?? Semoga kita masih diberi umur. Insya Allah.
Taqobbalallahu minna waminkum... semoga Allah menerima amal ibadah kita..
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H
Share:

Kamis, Agustus 20, 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Marhaban Ya Ramadhan; Selamat Datang bulan suci Ramadhan; Bulan penuh berkah dan ampunan; Mari kita jalani puasa tahun ini dengan hati ikhlas; insya Allah membawa barokah bagi kita semua dan juga bagi negeri kita tercinta; Amin;

Share:

Rabu, Agustus 05, 2009

SEJARAH PEMELIHARAAN KEMURNIAN AL QURAN


a. Memelihara Al Quran di masa Nabi Muhammad SAW
Pada permulaan islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf; amat sedikit di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas, sebagaimana kertas yang dikenal sekarang.
Perkataan “Al waraq” (daun) yang lazim dipakaikan dengan arti “kertas” di masa itu, hanyalah dipakaikan pada daun kayu saja.
Adapun kata “al qirthas” yang daripadanya terambil kata-kata Indonesia “kertas” dipakaikan oleh mereka hanyalah pada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis, yaitu: kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah tamar (korma), tulang binatang, dan lain sebagainya.

Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw, barulah mereka mengetahui kertas. Orang Persia menamai kertas itu “kaqhid”, maka dipakailah kata-kata kaqhid ini untuk kertas oleh bangsa Arab semenjak itu.
Adapun sebelum masa Nabi ataupun masa Nabi, kata-kata “al kaqhid” itu tidak ada dalam pemakaian bahasa Arab, maupun dalam hadits-hadits Nabi. Kemudian kata-kata “al qirthas” itupun dipakai pula oleh bangsa Arab kepada apa yang dinamakan “kaqhid” dalam bahasa Persia itu.

Kitab atau buku tentang apapun, juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab” di masa itu hanyalah berarti: sepotong kulit, batu, atau tulang dan sebagainya yang telah bertulis, atau berarti surat, seperti kata “kitab” dalam surat An Naml (27) ayat 28.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"
Begitu juga “kutub”(jama’ kitab) yang dikirimkan oleh Nabi kepada raja-raja dimasanya, untuk menyeru mereka kepada Islam.

Karena mereka belum mengenal kitab atau buku sebagaimana yang dikenal sekarang, sebab itu waktu Al Qur’anul Karim itu dibukukan di masa Khalifah Ustman bin ‘Affan, mereka tidak tahu Al Quran yang telah dibukukan itu akan dinamai apa, dan bermacam-macam pendapat sahabat tentang nama yang harus diberikan. Akhirnya mereka sepakat menamainya dengan “Al Mushhaf”. (Ism maf’ul dari ash hafa, dan ash hafa artinya: mengumpulkan shuhuf, jamak shahifah, lembaran-lembaran yang telah bertulis.)

Kendatipun bangsa Arab pada waktu itu masih buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Mereka berpegang pada hafalan untuk memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pejangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan sebagainya.
Demikian keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan agama Islam itu. Maka dijalankanlah oleh Nabi suatu cara yang ‘amali (praktis) yang selaras dengan keadaan pada waktu itu dalam menyiarkan Al Quranul Karim dan memeliharanya.

Setiap diturunkan ayat-ayat Al Quran Nabi menyuruh menghafalnya, dan menuliskannya, di batu, kulit binatang,pelepah tamar, dan apa saja yang dapat ditulisi. Dan Nabi menerangkan bagaimana ayat-ayat itu mesti disusun dalam sesuatu surat, artinya oleh Nabi diterangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan, selain dari Al Quran itu, yakni hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi, dilarang menuliskannya. Larangan ini ialah dengan maksud supaya Al Quranul Karim itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain, yang juga didengar dari Nabi.
Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal, dibaca selalu, dan diwajibkannya membacanya dalam sembahyang. Dengan jalan demikian banyaklah orang yang hafal Al Quran, dan tak satu ayatpun yang tak dituliskan.

Share:

Jumat, Mei 01, 2009

APAKAH AL-QUR'AN ITU?


a. Arti Qur’an dan apa yang dimaksud dengan Al-Qur’an.

“Qur’an” menurut bahasa berarti “bacaan”. Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagai tersebut dalam surat Al Qiyaamah (75) ayat 17 dan 18.

Artinya:
17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian dipakai kata “Qur’an” itu untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini. Adapun definisi Al-Qur’an ialah: “Kalam Allah Swt yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw dan membacanya adalah ibadat.”
Dengan difinisi lain, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa as. Demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang tidak dianggap membacanya sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur’an.

b. Cara-cara Al-Qur’an diwahyukan.
Nabi Muhammad saw dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan.

  1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku”, (lihat surat Asy Syuuraa (42) ayat 51).
  2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
  3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”
  4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al-Qur’an surat An Najm (53) ayat 13 dan 14.


Artinya:
13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430].

[1430] Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika mi'raj.

c. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hikmah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur itu ialah:
  1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah ra.
  2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur’an diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
  3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al Furqaan (25) ayat 32, yaitu: “……….mengapakah Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus……?” Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri: “………demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu……..”.
  5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-Qur’an diturunkan sekaligus.

d. Ayat-ayat Makkiyyah dan ayat-ayat Madaniyyah.
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur’an itu dibagi atas dua golongan:
  1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
  2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al-Qur’an terdiri atas 28 surat.

Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:
  1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek, sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al-Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al-Qur’an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surat Mumtahinah (60), ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali surat Ad-Dahr (76), ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat An Anfal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
  2. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedang dalam surat-surat Makkiyyah adalah sebaliknya.
  3. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.

e. Nama-nama Al-Qur’an.
Allah memberi nama Kitab-Nya, dengan Al-Qur’an, yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam surat Al Qiyaamah (75); ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.
Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al Israa’ (17) ayat 88; surat Al Baqarah (2) ayat 85; surat Al Hijr (15) ayat 87; surat Thaaha (20) ayat 2; surat An Naml (27) ayat 6; surat Ahqaaf (46) ayat 29; surat Al Waaqi’ah (56) ayat 77; surat Al Hasyr (59) ayat 21 dan surat Addahr (76) ayat 23.
Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al-Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Selain Al-Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti:
  1. Al Kitaab atau Kitaabullah: merupakan sinonim dari perkataan Al-Qur’an, sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqarah (2) ayat 2 yang artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya…….” Lihat pula surat Al An’aam (6) ayat 114.
  2. Al Furqaan: “Al Furqaan” artinya “pembeda”, ialah “yang membedakan yang benar dan yang batil”, sebagaimana tersebut dalam surat Al Furqaan (25) ayat 1 yang artinya: “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hambaNya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam”.
  3. Adz-dzikr: artinya “peringatan”, sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Hijr (15) ayat 9 yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-dzikr” dan sesungguhnya Kamilah penjaganya”. Lihat pula surat An Nahl (16) ayat 44.
Dari nama yang empat tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al Qur’an”.
Selain dari nama-nama yang empat itu ada lagi beberapa nama bagi Al-Qur’an.

f. Surat-surat dalam Al-Qur’an.
Jumlah surat yang terdapat dalam Al-Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (taufiq).
Sebagian dari surat-surat Al-Qur’an mempunyai satu nama, dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama.
Surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:
  1. ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat panjang. Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah, dan Yunus.
  2. AL MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti: Hud, Yusuf, Mu’min, dsb.
  3. AL MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti: Al Anfaal, Al Hijr, dsb.
  4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek, seperti: Adh-dhuha, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dsb.

g. Huruf-huruf Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah yaitu pada surat-surat: Al Baqarah, Ali Imran, Al A’raaf, Yunus, Hud, Yusuf, Ar Ra’ad, Ibrahim, Al Hijr, Maryam, Thaaha, Asy Syu’araa, An Naml, Al Qashash, Al ‘Ankabuut, Ar Ruum, Lukman, As Sajdah, Yasin, Shaad, Al Mu’min, Fushshilat, Asy Syuuraa, Az Zukhruf, Ad Dukhaan, Al Jaatsiyah, Al Ahqaaf, Qaaf, dan Al Qalam (Nuun).
Huruf-huruf Hijaaiyyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan “Fawaatihushshuwar” artinya pembukaan surat-surat.
Banyak pendapat dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaaiyyah itu, lihat terjemah.


Share:

Rabu, April 01, 2009

Puasa Membentuk Kecerdasan Ruhaniah

I. PENGERTIAN KECERDASAN RUHANIAH

Selama ini, manusia cenderung lebih menekankan kecerdasan intelektual (IQ), tanpa mempertimbangkan potensi kecerdasan yang lain dan menganggapnya sebagai satu-satunya kecerdasan yang bisa membawa manusia pada kemajuan. Hal ini justru mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan pada kehidupan manusia.
Kecerdasan ruhaniah akan menuntun manusia untuk bertindak dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya kepada Tuhan, manusia, dan alam sekitarnya. Bila saja manusia memiliki kecerdasan ruhaniah, maka krisis yang terjadi saat ini bisa teratasi. Namun tidak semua manusia bisa menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan ini tanpa disertai niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pelaksanaan ibadah puasa.

Kecerdasan ruhaniah atau Transcendental Intelligence (TQ) adalah kecerdasan yang berpusat pada rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan seluruh ciptaan-Nya. Atau kemampuan seseorang untuk mendengarkan hati nuraninya atau bisikan kebenaran yang meng-Ilahi dalam cara dirinya mengambil keputusan atau melakukan pilihan-pilihan, berempati, dan beradaptasi.
Kecerdasan ruhaniah merupakan esensi dari seluruh kecerdasan yang ada, karena berada pada nilai-nilai keimanan kepada Ilahi. Salah satu indikator kecerdasan ruhaniah adalah taqwa. Taqwa atau senses of responsibility, mengandung pengertian tidak hanya sekedar sebagai pengetahuan, namun juga merupakan sebuah dorongan untuk menunjukkan bukti tanggung jawab atas apa yang diketahuinya. Allah SWT telah memerintahkan umat manusia untuk bertaqwa sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surat Al Ma’idah ayat 93.

II. PUASA SEBAGAI SALAH SATU CARA MENUMBUHKAN KECERDASAN RUHANIAH


Sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an surat Al Ma’idah ayat 93, ada kaitan antara taqwa (tanggung jawab), iman (prinsip), dan amal saleh (achievenebts orientation) yang merupakan indikasi kecerdasan ruhaniah.
Untuk mewujudkan rasa taqwa dan meningkatkan iman, maka manusia harus melakukan satu bentuk amal saleh, yaitu perbuatan yang ditujukan semata-mata untuk Allah dan mengandung nilai-nilai kebaikan. Salah satu bentuk amal saleh yang juga merupakan kewajiban umat islam untuk mengerjakannya adalah puasa.
Puasa merupakan bentuk ibadah kepada Allah yang mengandung pesan moral, tidak hanya masuk ke wilayah pribadi yang bersifat individual dan psikologis, namun juga masuk ke wilayah sosial, politik, ekonomi, dan cultural. Dengan berhenti dari makan, minum, dan menahan segala hawa nafsu yang bisa menggugurkan ibadah puasa, akan menghantarkan umat islam pada sebuah bentuk umat yang saleh dan taqwa. Tetapi, puasa tidak menjamin seseorang pasti menjadi saleh dan taqwa. Hal ini dikarenaka, hasil puasa bergantung pada pengertian dan niat orang yang bersangkutan. Jika seseorang dapat memahami tujuan puasa dan mencoba untuk mencapainya, maka orang tersebut akan menjadi saleh dan taqwa.
Seperti telah disebutkan Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.
Puasa termasuk di dalamnya puasa Ramadhan, merupakan pendidikan tingkat tinggi bagi jiwa. Puasa melatih manusia untuk meninggalkan hawa nafsu yang paling kuat yaitu hawa nafsu perut dan hawa nafsu seksual, dengan tujuan mencapai keridhoan Allah SWT. Oleh karena itu, puasa dipandang sebagai tirai dan pelindung bagi orang muslim dari keterjebakan hawa nafsu di atas. Mengenai ibadah puasa ini, Dr. Ali Abdul Mahmud berpendapat bahwa puasa adalah “sekolah” yang lengkap untuk mendidik jiwa, bahkan jiwa dan jasmani sekaligus.
Hal ini dikarenakan, puasa menahan manusia dari segala hawa nafsu (nafsu perut dan seksual), juga menahan penglihatan, pendengaran, lisan, dan semua anggota tubuh dari perbuatan yang memurkai Allah SWT, sebagaimana menahan hati dan jiwa dari berbagai problematika dunia.
Pada hakekatnya, puasa sebagai sarana bagi manusia untuk membentuk dua hubungan, yaitu hubungan dengan Allah SWT (hablun min Allah) dan hubungan dengan manusia (hablun min al-naas). Dikatakan sebagai pembentuk hubungan dengan Allah SWT, karena puasa mengandung tujuan penghambaan seumur hidup kepada Allah SWT. Manusia lahir sebagai hamba Tuhan dan adanya manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana dalam QS Adz Dzariyat ayat 56 yang artinya “Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.
Adapun sebagai pembentuk hubungan dengan manusia, karena dengan berpuasa manusia dapat merasakan penderitaan kelaparan orang-orang yang miskin. Sehingga dalam diri orang yang berpuasa, tumbuh solidaritas sosial yang tinggi untuk membantu saudaranya yang lain yang menderita kekurangan. Dengan puasa, seseorang dilatih untuk mengontrol dirinya atau dengan kata lain sebagai latihan kesabaran. Kesabaran inilah yang pada akhirnya bisa digunakan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dengan hati dan pikiran yang tenang, tanpa tercampur dengan sifat emosi seperti yang terjadi saat ini.
Bagaimanapun juga, puasa merupakan sarana untuk membersihkan hati. Sedangkan hati adalah pusat dari kecerdasan ruhaniah yang perlu mendapatkan pendidikan ruhani. Karena dengan hati, Allah ingin memanusiakan manusia, memulyakannya dari segala makhluk ciptaan-Nya dan karena hati pula, manusia membinatangkan dirinya. Terhinpunnya perasaan moral dalam hati manusia, akan mendorong manusia untuk menampilkan bentuk tindakan yang berorientasi pada prestasi (achievement orientation ; amal saleh), sehingga tumbuhlah kecerdasan ruhaniah yang paling awal yaitu kesadaran untuk bertanggung jawab.


Pada akhirnya, ibadah puasa sebagai bentuk pendidikan ruhani yang bertujuan membentuk kecerdasan ruhaniah, akan memberikan pengaruh kepada diri manusia :
pertama, membersihkan dan menjernihkan jiwa seseorang dari sifat skeptisisme, negativisme, dan sikap menyerah.
kedua, membiasakan seseorang mencintai kebaikan dan memprioritaskan kebenaran karena jiwanya telah bertautan dengan Allah SWT.
ketiga, menjadikan seseorang berpegang teguh pada metode yang telah dipilih Allah SWT sebagai agama untuk seluruh manusia.
keempat, mendorong manusia untuk saling mencintai dan berkasih saying dengan sesamanya.
kelima, merupakan sarana bagi seseorang untuk memperoleh taufiq dalam segala perilakunya, baik perkataan maupun perbuatan.
keenam, mengajar seseorang agar tidak melakukan kesalahan dan tidak melanggar ketentuan islam, baik berupa hukum, syariat maupun etika.
ketujuh, membiasakan ruhani seseorang untuk mencintai kebaikan dan membenci keburukan, sehingga selalu siap melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

III. TANGGAPAN DAN KESIMPULAN

Pada kehidupan sekarang ini, manusia tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ), akan tetapi juga harus memiliki kecerdasan ruhaniah atau Transcendental Intelligence (TQ).
Salah satu cara untuk mencerdaskan ruhaniah adalah dengan cara berbuat kebaikan dan beramal saleh, salah satunya adalah berpuasa, tentu saja puasa dengan ikhlas semata-mata hanya karena Allah SWT. Karena dengan berpuasa seseorang dapat melatih untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu, melatih kesabaran, menumbuhkan solidaritas sosial yang tinggi dan dapat membersihkan hati.
Puasa merupakan pendidikan ruhaniah yang bertujuan untuk membentuk kecerdasan ruhaniah yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia, yaitu :
Dapat membersihkan jiwa.
Dapat membiasakan mencintai kebaikan.
Dapat menjadikan manusia berpegang teguh pada agama Allah.
Mendorong manusia mencintai sesama.
Sebagai sarana untuk memperoleh taufiq.
Mengajarkan untuk menjauhi larangan Allah.
Dapat menumbuhkan sikap amar ma’ruf nahi munkar.
Sebagai penutup, dapatlah kita simpulkan bahwa kecerdasan ruhaniah yang dicapai melalui puasa, bertumpu pada ajaran cinta (mahabbah) yang akan melahirkan sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan. Orang yang memiliki kecerdasan ruhaniah akan senantiasa tampil sebagai sosok yang penuh moral cinta dan kasih sayang, mencintai dan ingin dicintai karena Allah SWT. Dengan pemilikan dan penguasaan kecerdasan ruhaniah inilah, maka krisis multidimensi termasuk krisis moral dapat teratasi. Dengan kata lain bahwa dengan puasa dapat membentuk pribadi manusia yang bertanggung jawab, penuh cinta kasih, berjiwa sosial, dan penuh taqqorub dan tawadu’ kepada Allah SWT.



Dipetik dari:

Risalah Jum’at, Edisi 36/XI, 10 Ramadhan 1423 H / 15 Nopember 2002 M.



Share:

Selasa, Maret 24, 2009

Fiqh Munakahat

Keluarga
Kajian sosiologis
Operasional
Struktur yang bersifat khusus, satu sama lain mempunyai ikatan (hubungan darah / natural blood ties atau pernikahan).
Mempengaruhi adanya mutual expection yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum dan saling memiliki ikatan batin.
Keluarga dalam Islam
Baiti jannati (rumahku surgaku)
Istri yang sholihah, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman dan tetangga yang sholih (hadist Al Hakim), anak yang Qurrota ‘ayun (anak yang sholeh).

Fungsi / tujuan keluarga
a.Fisiologi
Tempat berteduh
Sandang, pangan, papan.
Suami istri penuhi biologis
(QS. Ar Rum : 21 = kawin ayathi)
b.Psikologi
Tempat semua anggota keluarga diterima secara wajar dan apa adanya
Tempat semua anggota keluarga memperoleh dukungan psikologis bagi perkembangannya
Tempat semua anggota keluarga memperoleh perlakuan yang wajar dan nyaman
Basis pembentukan identitas citra dan konsep diri
c.Sosiologis
Sebagai unit sosial yang menjembatani
Interaksi positif antar anggota dengan masyarakat sebagai unit sosial yang lebih besar
d.Dakwah
Objek pertama -> balighu
Jenis nikah
a.Nikah Syighar
Nikah tapi maharnya anaknya. Nikah ini dilarang oleh Rosulullah.
b.Nikah Mut’ah
Nikah hanya untuk senang-senang. Ini hukumnya haram.
c.Nikah Muhallil
Dalam keadaan ditalak tiga, dinikahinya seseorang kemudian ditalaknya agar dapat nikah dengan suami pertama-tama.
d.Nikah dengan ahli kitab
Boleh dan haram.
e.Nikah biasa, wajar


Rukun dan syarat nikah
a.Ijab Qobul
Penyerahan dari pihak wanita dan penerimaan dari pria
b.Adanya mempelai pria
Islam, bukan mahramnya, tidak terpaksa, orangnya jelas, tidak sedang beribadah haji.
c.Adanya mempelai wanita
Islam, tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak sedang iddah, bukan mahram, tidak sedang ihram, orangnya jelas, tidak terpaksa.
d.Ada wali
Ayah, kakek, saudara laki-laki, paman, hakim. Mereka harus laki-laki baligh, sehat akal, tidak dipaksa, adil, tidak sedang ihram.
e.Dua orang saksi
Islam, laki-laki, baligh, sehat akal, adil, tidak dipaksa, paham bahasa, tidak sedang ihram.
f.Mahar
Pemberian seorang suami kepada istrinya pada waktu, sebelum atau sesudah akad nikah (QS. An Nisa’ : 4 , Hadist : “Berilah mahar, meski dari cincin besi sekalipun.”)
Wanita yang haram dinikahi (QS. An Nisa’ : 22-23)
Al Muharramah al muabbadah (haram selamanya), karena :

a.Hubungan nasab
Ibu, nenek (ke atas), anak, cucu (ke bawah), saudara perempuan sekandung, seayah/seibu dan anak-anak perempuan mereka, bibi-bibi dari ayah atau ibu.
b.Hubungan perkawinan/besan
Istri bapak, istri kakek, istri anak/cucu, mertua, istri anak tiri bila ibunya ba’dad dukhul.
c.Hubungan sepersusuan
Saudara sekandung/seayah/seibu, saudara sepersusuan.
Al Muharramah al muaqqatah (sementara), seperti :
a.Saudara kandung istri (cerai dulu)
b.Bibi istri (cerai dulu)
c.Istri orang lain
d.Wanita dalam iddah
e.Wanita yang ditalak tiga
f.Wanita pezina hingga taubat
Khitbah (peminangan)
Permintaan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita tertentu dengan cara memberitahu wanita tersebut atau walinya
Hanya perjanjian untuk menikah, bukan menikah itu sendiri (tidak boleh bergaul berlebihan, tetap sebagai wanita asing)
Haram meminang wanita yang sudah dipinang orang lain
Wanita boleh menolak pinangannya
Hikmah khitbah
Saling mengenal
Mengetahui tabiat, akhlaq dan kecenderungan masing-masing
Jalan mencapai kesepakatan menuju pembentukan rumah tangga
Jenis khitbah
Langsung
Ucapan langsung, seperti “Saya ingin menikah dengan kamu”
Tidak langsung
Sindiran, seperti “Saya ingin calon istri seperti kamu”
Walimatul ‘Ursy
Menurut bahasa artinya berkumpul. Menurut istilah artinya pesta perkawinan, makanan untuk pesta.
Manfaat Walimatul ‘Ursy
Sebagai pemberitahuan agar tidak terjadi fitnah
Motivasi bagi yang belum menikah, tapi sudah mampu agar segera menikah
Mengikuti ajaran Nabi
Hukum menghadiri Walimatul ‘Ursy wajib apabila :
Yang mengundang sudah mukallaf dan islam
Undangan bersifat umum / tidak untuk yang disenangi saja
Khusus di hari pertama
Tidak didahului undangan lain
Tidak ada maksiat di dalamnya
Tidak ada udzur
Pada walimatul ‘ursy mengadakan hiburan diperbolehkan asal tidak berlebihan dan tidak maksiat. Hukum menghadiri undangan untuk walimah yang bukan perkawinan adalah sunah.
Share:

Sabtu, Maret 21, 2009

Kegagalan Dakwah dan Harapan Penyelesaiannya

Di kawasan Asia Tenggara dewasa ini, di mana berbagai kekuatan giat untuk menggunting dan berusaha melemahkan Islam, maka Dakwah Islamiyah dituntut untuk memiliki kesadaran dan pemahaman yang jernih dan utuh terhadap berbagai upaya dan rencana yang diletakkan oleh berbagai kekuatan yang ingin menjegal penyebaran Islam.
Di Indonesia, sebagai contoh, gerakan Dakwah Islam telah gencar dimulai sejak dekade tigapuluhan pada abad duapuluh, atas inisiatif dan usaha sebagian aktivis Islam dan para reformis muslim pada saat itu.
Terutama setelah dipersatukannya Kerajaan Saudi Arabia di bawah panji-panji Tauhid, dengan komandannya, al-maghfurlah raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman Al-Suud.
Begitu besar perhatian raja Abdul Aziz terhadap kondisi kaum muslimin di seluruh belahan bumi, sehingga kepedulian beliau itu membuahkan gaung yang sangat besar bagi dakwah tauhid ini ke seluruh dunia. Di Asia Tenggara, dakwah tauhid ini menyebar melalui kaum muslimin dari kawasan itu yang datang berhaji ke dua tempat suci, Mekkah dan Madinah. Mereka kemudian sadar akan pentingnya bagi ummat Islam agar kembali kepada keberagamaan secara benar, dengan berpegang teguh kepada Sunnah Nabi SAW. Sesudah para hujjaj itu kembali ke negeri mereka masing-masing, mereka telah mendapatkan bekal pemahaman yang benar tentang Islam yang di kemudian hari, sangat membantu mereka untuk bergiat dalam penyebaran Aktivitas Dakwah di kawasan Asia Tengara.
Lahirlah Organisasi Islam Al-Irsyad, yang dipelopori oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Surkati, sebagai salah satu dari organisasi-organisasi Islam terkemuka yang memiliki planning dan sasaran-sasaran yang ditetapkan setelah melalui riset di lapangan, dan bekerja atas dasar manhaj yang jelas dengan merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan begitu, Al-Irsyad telah membangun eksistensinya di tengah medan Aktivitas Islam di kawasan Asia Tenggara, melalui proyek-proyek besar yang sudah mereka canangkan di sektor-sektor pendidikan, budaya, pelayanan sosial, dan kesehatan.
Berdirilah pula organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 M. yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan, yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Kemudian lahir oraganisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M. didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari yang bergerak di bidang pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Dan organisasi AL-Khairot yang didirikan oleh orang-orang keturunan arab dari kaum Alawiyyin di Sulawesi, kemudian didukung oleh orang-orang Indonesia yang menaruh simpati kepada mereka. Berdiri pula Jam'iyah Al-Wasliyah sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki banyak anggota. Dan Organisasi PERSIS (Persatuan Islam), yang memproklamirkan diri sebagai Jam'iyah Salafiyah yang punya perhatian khusus dalam mempelajari kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab dan kitab-kitab Salafiyah lainnya.
Itulah beberapa organisasi Islam yang aktif di medan dakwah di Indonesia. Tidak sedikit organisasi-organisasi ini yang memiliki berbagai sarana seperti sekolah, masjid, pesantren dan universitas-universitas. Sekalipun demikian, kondisi kaum muslimin di Indonesia masih lemah dan terbelakang di berbagai segi, terutama kelemahan mereka di bidang akidah, budaya, sosial dan ekonomi.

Permasalahan
Lembaga dakwah, da'i, muballigh, perorangan, maupun secara bersama-sama pada umumnya sebagai lembaga yang gagal. Gagal menyeru, mengajak oang-orang pada kebaikan, pada kebajikan. Gagal mencegah, mengantisipasi orang-orang dari kejahatan, dari kebejatan. Gagal memasyarakatkan, mensosialisasikan pesan-pesan ajaran Islam. Gagal memasyarakatkan rambu-rambu pencegah konflik sosial. Gagal menanamkan benih masyarakat marhamah, masyarakat IMTAQ. Pandangan demikian memang pesimis.
Motivasi dakwah perlu ditinjau, diluruskan kembali. Apa memang benar untuk menyelamatkan orang-orang dari murka Allah, dari hukuman Allah. Atau hanya sebagai profesi untuk mendapatkan profit duniawi, dan bukan sebagai pelanjut risalah profetis (nubuwah) ?
Setan-setan - melalui berbagai media - membisikkan bahwa tiap jasa yang diberikan oleh seseorang, harus mendapat imbalan yang semestinya, juga di bidang dakwah. Seorang Muballigh yang harus menyisihkan waktunya yang berharga untuk pergi berdakwah selayaknya mendapat ganti rugi yang pantas. Demikian juga seorang pengarang yang menghasilkan tulisan-tulisan bernada dakwah, atau karya-karya lain-lain yang dapat mendatangkan keuntungan, pantas juga menuntut honorarium, atau royalty dari karya-karyanya yang dihasilkan (berorientasi pada profit duniawi).
Sudah lampau masanya -bisiny selanjutnya _ bahwa para muballigh harus berani merana untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, para guru-guru agama bersedia berpakaian kumal, asal saja dapat memberi pelajaran, dan para penulis dengan perut kosong harus menghasilkan karangan-karangan bernada dakwah (PANJI MASYARAKAT, No.175, 15 April 1976, hal 16-18).
Hubungan antara pelaku dakwah dengan objek dakwah dapat disimak dari sabda Rasulullah berikut : "Perumpamaan aku dengan kamu, bagaikan seorang yang menyalakan api. Semua kupu-kupu dan laron berkerumun pada api itu. Orang menghalaukan binatang-binatang itu dari padanya. Saya selalu menarik kamu dari belakang agar jangan sampai kamu masuk ke dalam api. Tetapi kamu selalu melepaskan diri dari tanganku" (HR Muslim dari Jabir. Aku memegangi tali pinggangmu untuk menyelamatkan kamu, tetapi kamu memaksa masuk ke dalam api itu (Salim Bahreisy : "Tarjamah Riadhus Shalihin" I, 1983, hal 172, hadis 8).

Harapan dan Saran Penyelesaian
Pelaksanaan dakwah haruslah terprogram rapi, serius, sistimatis, terarah, berkesinambungan. Bukan asal-asalan, acak-acakan. Benar-benar serius memanfa'atkan segenap tenaga, pikiran, dana, kemampuan untuk menyelamatkan orang-orang agar tidak sampai jatuh ke dalam murka Allah.
Musuh-musuh Islam punya program rinci, sistimatis untuk memurtadkan orang-orang Islam. Ada program jangka pendek, ada program jangka panjang. Ada program satu tahun, lima tahun, dua puluh lima tahun, lima puluh tahun. Dakwah Islam harus punya program jelas, terarah, terukur, teratur. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah anggota jama'ah shubuh, kenaikan jumlah anggota jama'ah Jum'at untuk selang waktu tertentu. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis Qur’an, kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis Hadits, kenaikan jumlah orang yang bisa khutbah Jum'at untuk selang periode tertentu. Berapa persen ditargetkan menurunnya jumlah pencopet, penodong, pemerkosa, pengamen, pemulung, pelacur, pemabuk, pejudi, penjarah untuk selang waktu tertentu.
Hasil dakwah perlu dievaluasi secara berkala. Sudah berapa persen target tercapai. Apa saja kendala yang merintangi keberhasilan. Tentukan indikator-indikator keberhasilan. Tentukan langkah, program kerja berikutnya. Program kerja berikut merupakan koreksi program sebelumnya. Penataan kegiatan dakwah barangkali perlu mengadopsi fungsi operasi managemen, mencakup fungsi perencanaan (planning, programming), fungsi organizing, fungsi pembimbingan (directing), fungsi coordinating, fungsi pengawasan (controlling). Dalam program kerja antara lain diperhatikan tentang sasaran, pelaku (man), dana (money), waktu, metode dakwah.
Selama ini dakwah hanya berkutat sebatas tekstual ajaran Islam. Kurang menjangkau, menyentuh pesan ajaran Islam secara konstekstual. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya kikir, bakhil terhadap diri pribadi dan terhadap masyrakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya rakus, tamak, serakah terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya dengki terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis dari sifat dan sikap seperti itu yang dicela Islam.
Sudah masanya, lembaga dakwah, muballigh memusatkan diri menyampaikan tuntunan, panduan Islam dalam mencegah timbulnya konflik sosial, baik konflik vertikal (antara atasan dan bawahan, antara majikan dan pelayan, antara penguasa dan rakyat) maupun konflik horizontal (sesama rakyat, sesama penguasa, antara eksekutif dan legislatif). Menyampaikan ajaran "dalam" yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang secara konkrit.
Share:

Kalender Hijriah


Jadwal Sholat


Subscribe

kirim update terbaru dari

Blog Irda langsung ke Email anda!


Komentar Terbaru

Site Info

Tukeran link yuk

Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

Irdaloves Blog

Follower

Blog Archive